Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

Kali Pagat, Batu Banawa Barabai Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan


Hai perkenalan nama saya Puji Astuti, panggil saja Puji. Saya 27 tahun sudah menikah & mempunyai 2 orang anak. Review tempat wisata yang mau saya ceritakan adalah  Kali Pagat Batu Benawa yang ada di kota saya sendiri Banjarmasin, tepatnya di Barabai Hulu Sungai Tengah.
Perjalanan dari kota Banjarmasin menuju barabai  adalah 165km kalau mengendarai mobil atau sepeda motor sekitar empat Jam. Perjalan empat jam tersebut tentu saja cukup menyita waktu, jadi biar sampai di kota barabai tidak terlalu siang saya dan keluarga berangkat pagi-pagi sekali sekitar jam 07.00 wita dengan perhitungan sampai disana sekitar jam 11.00 siang. Karena saya & keluarga bermaksud untuk singgah sebentar di Kandangan, sekedar untuk sarapan pagi. Kenapa di Kandangan karena di kota ini sangat terkenal sekali dengan kulinernya yang khas & sedap yaitu ketupat Kandangan, nanti saya juga akan mereview tentang kota Kandangan dengan kuliner khasnya ketupat Kandangan.
Dari Banjarmasin ke barabai banyak sekali kota-kota yg dilewati, pertama kota Banjarbaru, dan kota Martapura yang terkenal dengan kota permatanya disebut juga kota Serambi Mekah. Mungkin karena kereligiusan kota ini sebutan Serambi Mekah melekat kental disana. Saya suka sekali singgah ataupun hanya sekedar melewati kota martapura, karena di kota ini  banyak sekali dijual jajanan kue khas banjarmasin yang terkenal dengan 41 macam kue khas nya, banyak sekali ? yah memang inilah khas nya kota saya
kapan-kapan kalau anda ke Banjarmasin jangan lupa untuk ke Martapura. Selain itu jangan lewatkan untuk berburu perhiasan permata yang banyak sekali di jual di Pasar Martapura, murah & cantik tentu saja tinggal sediakan kocek yang banyak karena anda pasti ngiler kalau sudah berada di Pasar Martapura. 


Melewati kota Martapura perasaan yang saya rasakan adalah ketenangan karena kereligiusan kotanya, sepanjang jalan yang saya lewati banyak sekali anak-anak santri yang berbaju muslim (taluk belanga) dengan memakai sarung dan peci (kupiah) mereka adalah anak-anak pesantren yang mondok disana. Ya, di Martapura terkenal juga dengan pondok pesantrennya. Saya suka mengamati aktivitas mereka, ada yang menuju sekolah dengan kitab ditangan , ada yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya, ada juga yang sedang asik  menjemur pakaian. Terus saja disepanjang jalan Martapura nanti akan terlihat kios-kios yang menjual alat musik khas gendang  untuk Rebana/Qasidah dari yang kecil sampai dengan yang paling besar, gendang rebana ini berbentuk bundar dan pipih, terbuat dari kayu yang di bubut dan salah satu sisinya dilapisi kulit kambing yang nantinya dipakai untuk menepuk dan akan mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas dan indah untuk mengiringi alunan puji-pujian (shalawat) kepada Nabi Muhammad SAW. 

Satu Hal yang mistik dari kota Martapura, katanya setiap Ajian/hal-hal yang berbau gaib/Ilmu kebatinan yang bertolak belakang dari agama islam akan hancur/luntur apabila melewati kota Martapura. Wallahualam benar atau tidaknya, tapi banyak sekali kabar/cerita tentang hal tersebut. Inilah khas nya kota Martapura dengan keislamannya yang sangat kental.

Setelah Martapura, kota selanjutnya yang dilewati adalah Kabupaten Tapin atau kota Rantau, konon dahulu kota ini adalah tempat kesultanan Banjar dan Hindia belanda, dengan ketuaannya kota ini terkenal dengan datu-datu (orang tua zaman dahulu yang mempunyai kesaktian/ilmu gaib yang sangat tinggi diluar nalar manusia) seperti datu Niang Thalib, yang dengan kesaktiannya apabila beliau menghentakan kakinya maka orang-orang yang berada disekitarnya akan tersungkur ke tanah. Konon datu Niang Thalib masih hidup dan menjadi penguasa alam gaib didaerah tersebut. Datu Niang Thalib adalah murid dari datu Suban. Datu Suban adalah ahli ilmu tasawuf, Ilmu ma’rifat,  ilmu kebal (taguh) , ilmu kabariat, ilmu dapat berjalan diatas air, ilmu merubah wajah (bealih rupa), ilmu pandangan jauh, ilmu pengobatan, ilmu kecantikan, ilmu falakiah, ilmu tauhid dan ilmu firasat. Sehingga banyak sekali orang yang menuntut ilmu kepada beliau. 13 Datu yang sangat terkenal dalam budaya orang Banjar adalah datu Murkat, datu Taming Karsa, datu Niang thalib, datu Karipis, datu Ganun, datu Argih, datu Ungku, datu Labai Duliman, datu Harun, datu Arsanaya, datu Rangga, datu Galuh Diang Bulan, & datu Sanggul. 

Datu Suban dikenal sebagai Wali Allah yang memiliki Ilmu Kasyaf (ilmu yang bisa mengetahui suatu kejadian di balik hijab/ masa depan yang terkait dengan ibadah agama). Datu suban memiliki kitab Barencong (kitab tentang ajaran Tauhid/Ketuhanan) yang akhirnya diturunkan kepada muridnya yang terakhir Datu Sanggul (Abdussamad). Datu sanggul adalah  ulama yang aktif berdakwah di daerah bagian selatan Banjarmasin (Rantau dan sekitarnya), ia giat mengusahakan/memberi tiang-tiang kayu besi (kayu ulin) bagi orang-orang yang mendirikan masjid. Banyak sekali cerita tentang datu Sanggul yang paling terkenal adalah makam beliau yang sangat panjang dan berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di kampung Tatakan kota Tapin/Rantau.
Dari kota Tapin/Rantau akhirnya saya dan keluarga sampai juga di kota Kandangan, Kalau tidak salah Kandangan adalah kota asal dari bapak Hamzah Haz salah satu wakil dari presiden Republik Indonesia. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya saya dan keluarga sengaja singgah di Kandangan untuk sarapan pagi kuliner khas Ketupat Kandangan yang sangat terkenal. Ketupat kandangan adalan kudapan gurih yang terdiri dari ketupat kecil seperti ketupat lebaran yang dipotong segi tiga kemudian diberi kuah santan yang telah dimasak,  ditaburi bawang merah goreng dengan lauk ikan gabus (haruan) bakar, sate perut ikan gabus (haruan), atau telur itik rebus dilengkapi juga dengan sambal pedas yang segar dan sangat menggugah selera. Yang unik, aalah cara memakan ketupat kandangan yaitu tidak menggunakan sendok tetapi dengan memakai tangan, jadi ketupat tersebut dihancurkan dengan tangan sampai seperti nasi kemudian baru dimakan, sungguh nikmat sekali .

Selesai sarapan pagi perjalan diteruskan kembali sampai menuju kota Barabai, Alhamdulillah akhirnya sampai juga dikota ini, saya kangen dengan kota barabai karena kakek dan nenek saya (keluarga dari ibu) banyak tinggal di kota Barabai Pagat. Mobil langsung menuju kota Pagat tempat Objek wisata Kali Batu Benawa yang ingin kami datangi, jaraknya  sekitar 7km dari kota Barabai. Suasana perkampungan mulai terlihat dengan pegunungan meratus yang terbentang dan berdiri kokoh disampingnya, sungguh pemandangan yang luar biasa. 

Sampai di pagat Kami langsung menuju ke Kali Batu Benawa, biaya masuk kesana sekitar Rp.5.000,-/orang. Setelah masuk dari gerbang utama perjalan menuju kali besar ternyata tidak mudah saya dan keluarga harus berjalan menaiki & menuruni tangga yang lumayan panjang dan menguras tenaga untuk sampai di kali Batu Benawa. Saya baru ingat letak geografis yang berupa pegunungan sangat berpengaruh sekali, perjuangan saya dan keluarga akhirnya terbayar tuntas, bunyi gemuruh arus kali/sungai yang deras menyambut kami, udara dingin & segar mulai terasa. Saya dan keluarga tidak sabar untuk segera menceburkan diri ke kali yang airnya terlihat bening dan segar. Tetapi sebelumnya kami menyewa terpal terlebih dahulu untuk beristirahat dan menaruh barang-barang yang kami bawa.  Biasanya terpal sudah terpasang seperti atap rumah/tenda sehingga saya dan keluarga tidak perlu bersusah payah dan bisa langsung beristirahat dari perjalan 4 jam yang sangat panjang. Harga sewa terpal cukup murah sekitar Rp 15.000,- s/d Rp 20.000,- dan tidak berbatas jam.

Anak-anak langsung tidak sabar untuk segera mandi di kali/sungai. Untuk anak-anak yang tidak bisa berenang tidak perlu khawatir karena disini banyak disewakan ban untuk berenang sehingga saya tidak perlu khawatir lagi. Harga sewa ban berkisar antara Rp. 2.500,- s.d Rp.3.000,- di kali Batu Benawa terdapat sejumlah Objek seperti gua batu yang sangat besar, untuk menuju kesana bisa menggunakan rakit bambu atau jembatan bambu yang sudah disediakan disana. Asyik sekali saya menghayal seperti sedang rafting sekaligus berpetualang saat menaiki jembatan bambu. Sayangnya untuk melewati jembatan bambu saya dan keluarga harus membayar kembali. Semula saya merasa kecewa tetapi kata suami itu tidak salah karena masyarakat disana perlu merawat jembatan tersebut, maklumlah kali Batu Benawa sangat lebar.

Anak-anak asyik berenang dengan kakeknya dipinggir sungai, sedangkan saya dan suami memilih untuk berfoto diantara batu-batu sungai yang besar, air kali yang deras, dan diatas rakit-rakit bambu. Sebenarnya saya ingin sekali berenang ketengah tapi arus kali yang sangat deras cukup menciutkan nyali saya dan suami, belum apa-apa arus sungai sudah membuat tubuh saya tertarik cukup kuat, ngeri juga jadinya kalau saya sampai hanyut terbawa arus sungai yang dipenuhi batu-batu besar. Eksostis sih tapi berbahaya bagi yang tidak berpengalaman.

Capek berenang & mengelilingi objek wisata yang ada disana saya dan keluarga kembali beristirahat di terpal yang telah kami sewa sebelumnya, karena sudah sangat siang saya dan keluarga mulai merasa lapar. Kami mulai menyantap makan siang yang sebelumnya memang sudah kami siapkan dari rumah, selain itu ternyata disini banyak sekali dijual jagung muda rebus yang memang baru saja dipetik, jadi rasanya sangat manis dan enak. Harga jagung rebusnya hanya Rp.1000,-/biji, murah, enak dan kenyang membuat hati menjadi senang .

Puas disana akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Banjarmasin, perjalan kembali keatas cukup menguras tenaga. Sampai diatas saya kembali membeli kacang kedelai rebus dan buah untuk cemilan saat pulang. Waktu itu mungkin sedang musim buah sawo karena banyak sekali pedagang yang menjual buah sawo disana, 10 biji sawo dijual dengan harga Rp. 6.000,- dan kacang kedelai rebus Rp. 1.500,-/ikat.

Perjalanan pulang cukup menyenangkan, tetapi anak-anak memilih untuk tidur karena kecapean. Di Kandangan saya dan keluarga kembali singgah sebentar untuk membeli kue dodol khas kandangan ada dodol kelapa, dll lucunya pedagang yang menjual dodol disepanjang jalan pasti mencantumkan dodol asli dalam kemasannya, sampai-sampai saya berceletuk andaikan saja ada dodol palsu di Kandangan saya bersedia untuk membeli. Sampai di Banjarmasin hari sudah malam sekitar jam 20.00 wita. Capek tapi sangat berkesan untuk saya dan keluarga, karena tidak bisa setiap saat saya dan keluarga bisa kesana. Demikian road of vacation saya ke Kali Batu Benawa Pagat Barabai, cukup menguras tenaga tetapi juga merefresh pikiran yang jenuh karena kesibukan bekerja. Mudah-mudahan lain kali bisa ke Barabai lagi.


Naskah Oleh :

Puji Astuti
Jahri Saleh, komp wirayudha rt 25 no 23 Banjarmasin, Kalimantan selatan, 70123

Ironggholo dan Dholo Air Terjun Nan Apik


Pernah main ke Kediri? Kediri yang terkenal dengan sebutan kota tahu yang sudah familiar banget dengan rokoknya Gudang Garam dan tugu Simpang Lima Gumul sebagai ikonnya yang megah berdiri ternyata juga punya tempat-tempat wisata yang menarik buat dikunjungi loh. 


Salah satunya adalah wisata air terjun. Kalau tetangga, Nganjuk punya Sedudo dan Malang punya Coban Rondo yang sudah populer duluan maka Kediri pun juga punya dua wisata air terjun andalan, yaitu Ironggolo dan Dholo.

Dua wisata air terjun ini terletak di wilayah kecamatan Semen, Kabupaten Kediri atau penduduk sekitar biasa sebut Besuki, kurang lebih 20 km dari alun-alun kota atau sekitar 40 menit perjalanan. Nah, buat temen-temen atau keluarga yang ingin berlibur, daerah wisata dua air terjun ini berhawa dingin karena memang terletak di dataran tinggi Gunung Wilis.

Untuk menuju tempat wisata ini dapat melalui dua jalur, bisa dari Desa Mojo atau bisa juga dari Terminal Baru Tamanan Kediri. Bila temen-temen melalui terminal, searah juga dengan jalan menuju Gereja besar Puhsarang. Namun kedua jalur ini kesemuanya menawarkan pemandangan pegunungan yang indah. 

Dua air terjun ini berlokasi diberbeda tempat. Dari Air terjun Ironggolo masih harus naik menempuh 5 km lagi untuk menuju Air terjun Dholo. Namun sayangnya, belum ada tranportasi umum yang dapat digunakan untuk menuju tempat wisata ini. Jadi untuk mempermudah lebih baik temen-temen membawa kendaraan pribadi. Harga tiket masuk sebesar Rp 3.000,- untuk kendaraan yang digunakan motor Rp 1.000,- dan mobil Rp 2.000,-. Ini belum termasuk karcis parkir loh tapi cukup murah kan? Hehe. 

Pengalaman paling menarik yang biasa pengunjung dapatkan adalah ketika kembali dari sumber air terjun Dholo. karena untuk menuju air terjun, pengunjung menuruni anak tangga terlebih dahulu. Jadi kalau mau balik pulang kan harus naik sebanyak sekitar seratus anak tangga. Di dekat air terjun Ironggolo juga ditemukan lagi air terjun Parijoto. Namun untuk akses kesana masih sulit dan harus ditempuh dengan jalan kaki. Bila temen-temen ada yang ingin melihat air terjun tersebut, ada petugas yang siap memandu dan menunjukkan jalannya tapi harus secara rombongan. Jadi kalau ke Kota Tahu jangan sampai melewatkan guyuran air terjun Dholo dan Ironggolo ya.

Naskah Oleh :


Rahma Andis Kurniawan
Jl P. Kemerdekaan 215 Kediri 64127

Sabtu, 28 Juli 2012

Kalimat Sakti Nyuwun Sewu dari Yogyakarta


Yogyakarta memang kota yang berbudaya. Tidak ayal kota ini mendapat kota ternyaman di Indonesia. Bukan hanya karena keindahan tempat-tempat wisatanya, kulinernya, atau kerajinan dann buah tangan yang ditawarkan, tapi juga budaya yang dimiliki. Bukan sekedar budaya yang ditampilkan di tempat-tempat wisata demi memancing wisatawan, tapi budaya yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Salah satu living culture yang membuat saya kagum dan betah untuk tinggal di Yogyakarta adalah sopan santun dan keramahan. Sudah menjadi suatu hal yang umum mendengar ucapan "nyuwun sewu" dan "ndelek langkung" di jalan-jalan, khususnya jalan desa, sebagai sapaan yang wajib dibalas dengan kata "monggo". Hal itu seperti sebuah kewajiban yang tertanam dalam masyarakat Yogyakarta, menyapa setiap orang bahkan yang belum dikenal.

Kelihatannya sih sepele, namun tanpa kita sadari budaya bersapa satu sama lain ini merupakan ciri khas yang menjadikan Yogya semakin istimewa, khususnya bagi wisatawan. Dengan bersapa, ada suatu keakraban yang terjalin antara masyarakat dan wisatawan. Keakraban ini menimbulkan kesan bahwa keberadaan wisatawan tersebut benar-benar dihargai sebagai seorang tamu, yang meskipun tidak dikenal, tetap dihormati dan dimuliakan. Mereka (para pelancong) tentu akan merasa lebih nyaman dan menikmati liburan mereka.

Hal ini bukan hanya dugaan dan penafsiran saya semata. Beberapa bulan yang lalu saya mengajak kawan saya dari luar negeri untuk mengelilingi beberapa kota di Pulau Jawa, termasuk ke desa saya di Sleman, Yogyakarta. Ketika perjalanan selesai, kawan saya tersebut mengaku kota terbaik yang membuatnya betah adalah Yogyakarta.

Dia mengagumi keramahan orang-orang di desa saya selama dia tinggal. Padahal kawan saya ini tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali, opo meneh bahasa jawa, tapi dia bisa merasakan keramahan orang-orang desa dari cara mereka tersenyum, menyapa, tertawa, ataupun mengangguk saat berpas-pasan dengannya. Dia menjelaskan, seakan-akan hanya dari gerak tubuh saja keramahan yang disajikan rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta sudah sangat terasa.

"Tidak seperti kebanyakan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi, saya tidak merasa sebagai 'target penjualan' yang menghasilkan uang bagi mereka (masyarakat dan pedagang)," lanjutnya bersemangat. "Saya benar-benar menjadi tamu di kota ini, atau bahkan saudara yang tidak pulang. Hanya ada sedikit sekali daerah di dunia yang membuat saya merasa seperti ini."

Sedikit catatan, kawan saya ini sudah lebih dari 30 tahun berkeliling dunia, mengunjungi berbagai daerah dengan berbagai budaya yang berbeda. Tentunya kita sebagai warga Yogyakarta harus bangga bisa disebut kota yang ramah oleh pelancong yang sudah berpengalaman seperti dia. Ini merupakan kunjungan pertamanya di Indonesia, setelah sebelumnya ragu untuk datang karena termakan isu 'Indonesia sarang teroris' dan travel warning di negaranya. Semoga keramahan yang dia terima bisa sedikit banyak mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tentang Indonesia.

****

Saya jadi teringat hari-hari pertama saya di Yogyakarta. Setelah 14 tahun saya hidup di Ibukota Jakarta, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di DIY, tepatnya di daerah Pakem, Sleman. Hari-hari pertama saya sebelum sekolah dimulai, saya dikurung di rumah sambil dicekoki  budaya-budaya ala Yogyakarta yang belum pernah saya pelajari di Jakarta. 'Pelajaran privat' itu termasuk tata krama, unggah-ungguh, dan yang paling ditekankan, kalimat-kalimat sapaan yang sederhana.

Awalnya saya cuek, merasa sapaan tersebut bukan suatu hal yang penting. Di daerah asal saya, jarang sekali orang saling menyapa dengan orang yang tidak dikenal. Berpaspasan pun seperti acuh tidak acuh, senyum pun tidak. Hal ini sudah biasa bagi saya, jadi memang sepatutnya saya merasa agak asing dengan kebiasaan menyapa di Yogyakarta.

Namun, anggapan 'asing' itu berubah saat saya berjalan-jalan di sekitar desa. Hampir semua orang yang saya temui pasti menyapa saya, baik sapaan 'nyuwun sewu' atau hanya senyuman dan anggukan kepala. Padahal saya masih baru di desa itu, dan belum mengenal orang-orang yang menyapa saya tersebut. Saya mau tidak mau harus menjawab sapaan tersebut, dan pada akhirnya malah saya yang menyapa duluan. 

Sayangnya budaya ini sudah semakin punah, seperti yang sering terjadi di lokasi-lokasi tujuan wisata lainnya. Masuknya budaya luar yang cenderung individualis membuat keindahan budaya turun temurun ini mulai pudar. Khusunya para pendatang baru, mereka semakin meninggalkan budaya menyapa, bahkan kepada orang yang mereka kenal. Yah, saya harap budaya ini tetap bertahan di kota yang tentram ini, di tengah modernisasi yang semakin menjadi-jadi.

Memang rasanya tentram sekali kalau hidup seperti ini, saling menyapa meskipun belum kenal. Ah, tentramnya.. Eh, nyuwun sewu mas!

Rabu, 06 Juni 2012

Wisata Yogya dan Klaten


Waktu liburan panjang tahun 2010, saya dan keluarga berlibur ke rumah nenek di Klaten. Ayah memang asli dari Klaten dan seluruh keluarga besar ayah tinggal di Klaten. Kami sekeluarga pun berniat liburan ke sana. Dari Jakarta kami bertolak ke Klaten menggunakan kereta api dari stasiun gambir. Perjalanan kami cukup panjang, namun setelah memasuki wilayah jawa tengah, kami di suguhi pemandangan hijau dari persawahan dan gunung yang indah sekali. Udara yang masih bersih dan tidak kami dapatkan di Jakarta. Pemandangan yang membuat mata segar. Setelah sampai di stasiun Klaten, kami dijemput oleh sepupu dari ayah dengan menggunakan mobil. Selama di perjalanan kami masih saja di suguhi pemandangan hijau yang indah. Setelah istirahat sebentar, kami makan siang di tempat makan terapung, memang di dekat rumah nenek ada rumah makan terapung. Rumah makan tersebut mengapung di sebuah danau. Rumah makan tersebut menyajikan makanan seafood, lumayan enak makanannya. Selama menunggu makan disajikan, kami bisa melihat masyarakat yang memancing dan melihat gunung merapi yang berdiri kokoh. 


Keesokan harinya kami pergi ke Solo, kami pergi ke pasar Klewer untuk membeli batik. Karena disana batik-batiknya murah dan modelnya banyak. Kami pun berkeliling pasar Klewer, setelah selesai belanja di pasar Klewer, kami pun pergi ke Yogyakarta. Kami ke malioboro. Kami membeli pernak-pernik untuk oleh-oleh teman-teman di Jakarta. Kalau bisa berbahasa jawa, bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah. Disetiap jalan Yogyakarta banyak sekali lampu merah,  baru beberapa meter sudah lampu merah. Disana juga terdapat mini busway. Disetiap sudut Yogyakarta banyak terdapat karikatur yang ditulis ditembok sepanjang jalan. Tulisannya mengganggu pemandangan, malah menjadi hal yang unik. Sungguh indah Yogyakarta, kota para raja. 

Naskah Oleh :

Ana Permatasari
Taman Permata, blok i no 6. RT 003/007. Cipondoh Tangerang

Kamis, 31 Mei 2012

Sejuta Pesona Banten..


“ kemarin tanggal 02 Mei 2012 kelas saya habis jalan-jalan dan penelitian ke banten loh”, ujar seorang mahasiswa saat berbincang dengan temannya di angkutan umum.
“ wah, asik banget ya. Kan banten indah banget. Aku juga mau ah kapan-kapan ke sana. Pengen liat sunset di pantai carita. Biar romantis”, ujar lawan bicaranya sambil tertawa.
Mereka pun tetap mengbrol dengan asyiknya dan saat itu saya hanya mendengarkan karena kebetulan saya pun baru pulang dari tempat yang mereka perbincangkan tersebut. Memang benar, Banten itu provinsi yang sangat indah.

****

Banten, Provinsi yang ada di ujung pulau jawa ini menyimpan berjuta keindahan, berjuta pesona, dan berjuta tempat wisata. Daerah ini memang beriklim tropis, ini menunjukan bahwa Banten memang benar-benar bagian dari Negara Indonesia yang didaulat sebagai Negara beriklim tropis. Daerah yang terkenal dengan binatang badak bercula satu ini memang layak untuk dikunjungi karena tempatnya sangat dekat dengan beberapa pantai dan pelabuhan hingga mudah untuk dikunjungi baik memalui jalur darat, laut, mau pun udara. 





Saat datang atau berkunjung ke Provinsi Banten, rasanya tak sempurna jika tidak berwisata ke pantai Anyer. Pantai ini sangat eksotis sekali karena lautnya masih terhampar biru dan jauh dari genangan atau tumpukan sampah yang biasanya bermuara di laut. Pantai anyer ini memang ramai dikunjungi oleh turis baik dalam negeri mau pun luar negeri. Di sinilah tempat yang tepat untuk menikmati indahnya matahari terbenam atau sunset. Sungguh merupakan pantai yang sangat menakjubkan. Bahkan tak jarang jika tempat ini menjadi objek foto yang sangat digemari.

Selain pantai Anyer, tempat yang terkenal lainnya yang ada di wilayah banten ini adalah Pantai Karang Bolong. Di tempat ini, kita bisa mendapatkan pernak-pernik hasi laut yang murah seperti patung-patung dari kerang, jam dinding yang berhiaskan lobster, tirai dari kerang yang berwarna warni, juga pengan khas daerah tersebut seperti emping. Pantai Karang Bolong ini tak kalah indahnya dengan Pantai Anyer. Selain pantainya yang indah, di tempat ini pun ada bukit karang bolong dan pemandian air laut yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Bagi wisatawan yang ingin menikmati indahnya pantai Karang Bolong untuk beberapa hari, di sini pun di sediakan pondok Karang Bolong. 

Saat membicarakan tempat bermalam, hotel yang terkenal di Banten ini salah satunya adalah Hotel Mutiara Carita Cottages. Hotel ini sangat nyaman karena di sini kita bisa menikmati keindahan laut carita juga suasana perbukitan yang hijau membentang. Bangunan yang berbahan dasar kayu ini sangat tradisional dan nyaman untuk ditempati terlebih pada siang hari yang panas. Dan yang paling menyenangkan adalah hotel Mutiara Carita dilengkapi dengan kolam renang yang bisa kapan pun digunakan oleh pengunjung secara cuma-cuma. Selain itu, fasilitas lain yang bisa dinikmati adalah jet sky, banana boat, dan speed boat yang tepat berada di laut di belakang hotel. 

Selain dari beberapa tempat tadi, masih banyak lagi tempat tempat indah di provinsi Banten ini yang selalu ramai dikunjungi oleh turis domestik mau pun mancanegara seperti Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di Kabupaten Pandeglang. Di sinilah kita bisa menjumpai spesies langka dari badak jawa atau badak bercula satu yang dilindungi karena spesiesnya yang terancam punah.

Bahkan yang lebih menarik dari Provinsi Banten ini, masyarakat di beberapa daerahnya bisa dijadikan objek penelitian bahasa juga kebudayaan yang menarik karena disini kita akan menjumpai beberapa keunikan. Contohnya saja orang banten yang berbicara dengan bahasa Indonesia namun berdialek jawa atau pun medan. Namun mereka pun memiliki bahasa daerah sendiri yaitu bahasa Banten yang bisa menjadi ciri khas penduduknya. Juga masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dijadikan objek tergantung kebutuhan yang tentu saja harus ada izin dari pemuka daerah setempat. Itulah Banten, provinsi yang menyimpan berjuta pesona dan keindahan serta keunikan. Hal–hal seperti inilah yang patut dilestarikan dan diperbincangkan karena bukan tidak mungkin saat orang lain mendengar cerita tentang wilayah Indonesia, mereka pun akan tertarik untuk turut berwisata di daerah-daerah di Indonesia. Hal ini tentu menambah penghasilan dan sumber penghidupan bagi para penduduk setempat.

Ditulis oleh:

Iis Yasinta Apriani
Cipetir rt 03/02 Ds. Batusari Kec. Dawuan- Subang, 41271

TIMUR nan Eksotis


Indonesia Tengah dan Timur menyajikan pesona alam yang indah, alami, nan eksotis. Terlepas dari bisingnya  lalu lintas perkotaan, terlepas dari penatnya tekanan pekerjaan, dan terlepas dari aroma atmosfer yang tercemar. Benar-benar merupakan salah satu cipratan syurgawi yang diberikan pada dunia. Jika pembaca sekalian menginginkan ketenangan dalam menikmati keindahan dari yang Maha Kuasa, maka tempat-tempat wisata di Pulau Lombok merupakan salah satu tujuan wisata yang sangat direkomendasikan.







Sekitar bulan Februari lalu, bertepatan dengan liburan pasca UAS, saya dan beberapa teman sekelas di kampus pergi berbackpacker ke Bali. Kami pergi ke sana dari Jogja dengan menggunakan Kereta Sri Tanjung, dilanjutkan dengan feri penyebrangan, bus kota, dan tibalah kami di Bali. Ongkos yang dikeluarkan pun tergolong murah, hanya sekitar 66 ribu untuk mencapai Ubung, Bali. Namun kali ini saya hanya akan menceritakan kisah perjalanan saya di Lombok. Cerita punya cerita, ketiga teman saya memutuskan untuk pulang setelah lima hari kami berombang-ambing di Bali. Sedang saya memutuskan untuk melanjutkan wisata ke Lombok.

Hari pertama wisata di Lombok diawali dengan mengunjungi Puncak Pusuk, sebuah puncak perbukitan di wilayah Lombok Barat yang sejuk dengan pepohonan yang cukup lebat seperti hutan belantara. Di sepanjang jalan di Pusuk juga terdapat monyet-monyet yang berkeliaran dengan bebas dan pengunjung dapat memberi makan mereka dengan kacang yang dapat dibeli di penjual setempat. Monyet-monyet di wilayah Pusuk ini berkeliaran dengan bebasnya dan berinteraksi cukup dekat dengan pengunjung, berbeda dengan monyet-monyet yang dapat kita temui di wilayah Kali Urang yang rata-rata hanya dapat kita lihat dari kejauhan karena kebanyakan dari monyet-monyet itu selalu di atas pohon. Namun pengunjung harus hati-hati karena beberapa monyet di Pusuk karena mereka cenderung agresif dalam meminta makanan, bahkan saat itu botol mizone yang dibeli oleh sepupu saya diambil, dibuka, dan diminum oleh salah satu monyet tersebut.

Sejalur dengan Pusuk, saya melanjutkan perjalanan ke arah utara, menuju Gili Trawangan, sebuah pulau kecil di wilayah Lombok Tengah yang sudah terkenal hingga mendunia. Gili Trawangan ini adalah salah satu dari Tiga Gili (Three Gilis) di lombok Tengah, yakni Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Di sepanjang perjalanan, sepupu saya menceritakan legenda-legenda setempat. Konon katanya, di malam hari jika mengendarai motor sendiri di daerah Pusuk, terkadang jika apes maka kita dapat diperlihatan penampakan ular putih berkepala manusia. Dan jika melihatnya, maka jangan sekali-kali menatapnya. Di sepanjang jalan itu saya juga meilhat arca-arca sebagai tempat persembahan umat Hindhu. Lombok, menurut saya adalah sebuah pulau dimana toleransi beragamanya cukup tinggi, terutama antara umat muslim dan umat Hindhu yang berasal dari Bali. Terdapat banyak Masjid besar di tepian jalan yang kami lalui, namun juga terdapat pura-pura kecil untuk permohonan keamanan.

Gili Trawangan, sebuah pulau kecil yang indah seperti gambaran pantai-pantai di alam imaji. Pasir putih bersih, langit biru yang cerah, air laut yang jernih semakin jauh semakin membiru menua, perahu nelayan yang dilabuhkandi tepian pantai, serta wisatawan yang asik berenang dan melakukan snorkeling. Karena keadaan alamnya yang masih alami, air lautnya pun sangat jernih dan hanya dengan berbekal peralatan snorkeling yang sederhana, kita dapat melihat terumbu-terumbu karang. Karena letaknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai, hanya dengan berenang sebentar saja kita sudah dapat menikmati indahnya ekosistem bawah air. Kita juga dapat melihat ikan-ikan kecil berwarna cerah yang berenang kesana kemari dengan cepatnya. Jika pembaca sekalian memiliki banyak waktu, menginaplah satu atau dua malam di Gili Trawangan ini. Pada malam hari, sering terdapat kunang-kunang yang memperindah suasanan malam. Di pagi hari, terkadang kita dapat menemukan menemukan ubur-ubur yang terseret ke pinggiran pantai. 

Yang paling spesial dari pulau ini adalah tidak adanya kendaraan bermotor. Pengunjung menggunakan cidomo, semacam andong atau delman yang menggunakan ban mobil, atau dapat juga dengan menyewa sepeda. Benar-benar suasana yang alami. 

Gili Trawangan ini tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Pulau ini dapat dikelilingi dengan menggunakan Cidomo atau Bersepeda. Saya sendiri mencoba bersepeda untuk mengelilingi Gili Trawangan dan ternyata cukup melelahkan. Di sepanjang jalan yang mengelilingi pulau, kita dapat melihat hotel-hotel, pub, atau bar yang didesain dengan unik dan artistik. Di sepanjang jalan, di beberapa tempat yang belum terjamah oleh para developer perhotelan, kita dapat menemui kesunyian dan keindahan pantai yang masih murni dari jamahan manusia.

Puas bermain di Gili Trawangan, saya dan sepupu melanjutkan perjalanan ke Pantai Malimbu. Sebuah pantai di kawasan Lombok Barat dengan tebing-tebing tinggi. Di puncak Malimbu, jalanan bersampingan langsung dengan tebing itu hanya dibatasi pagar kecil,  membuat kita dapat melihat pemandangan laut biru nan eksotis di bawah. Biasanya di malam hari, Malimbu dipenuhi oleh orang-orang yang bersantai melihat pemandangan laut malam sembari memakan jagung bakar. Saya sendiri sempat mencobanya, dan benar-benar maknyus. Perpaduan antara angin dingin dan hangatnya jagung bakar membuat langit malam semakin berkilau. 
Setelah berfoto-foto di Puncak Malimbu, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Kerandangan. Pantai yang menurut saya yang pecinta pasir putih ini, biasa saja karena warna pasirnya coklat kehitaman. Namun pantai tersebut layak untuk dikunjungi karena wisata kulinernya. Disana kami menyantap sate Bulaya, sate yang terbuat campuran dari daging ayam dan ikan yang ditaburi bumbu kacang. Yang khas dari kuliner di lombok ini adalah hampir selalu menggunakan perasan jeruk limau untuk memepersedap rasa, misalnya saja pada bumbu Ayam Taliwang, Beberuk (sejenis lalapan), maupun pada sambal-sambalnya. Awalnya saya menyangka sate ini berasal dari daging buaya, maka dari itu sate dinamai Sate Bulaya. Namun ternyata Bulaya adalah nama lontong yang disantap bersama sate ini. Terbuat dari beras, Bulaya ini hapir sama dengan lontong pada umumnya, namun dibungkus dengan menggunakan daun lontar.

Yang membuat suasana semakin asri adalah tempat makan yang dikemas menyerupai gubuk-gubuk kecil di tengah sawah. Hanya saja konsepnya adalah lesehan gubug beratap rendah di pinggir pantai. Konon katanya, di pantai ini, terdapat sebuah palung yang dapat menarik mereka yang tidak berhati-hati. 

Setelah puas mengunjungi tempat-tempat tersebut, yakni Puncak Pusuk, Gili Trawangan, Puncak Malimbu, dan Pantai KErandangan, saya pun pulang ke rumah saudara untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Naskah Oleh :

Muamaroh Husnantiya
Perum RS IV Bok C Nomor 47, Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan. 15222

Minggu, 06 Mei 2012

Berpetualang dan Berbagi pada Anak-anak

River Adventure and Devotion Society
itulah kata-kata yang menjadi pemicu semangat kami saat ini. Arung jeram, pemetaan sungai dan segala hal tentang petualangan kami di sungai yang terrangkum dalam kata river adventure menjadi basic kami dan devotion society yang bermakna pengabdian masyarakat ini seolah sudah tertanam dalam diri kami jauh sebelum kami melakukan pengembaraan. Dua kalimat itulah yang menjadi sebuah impian sekaligus tantangan bagi kami, kesepuluh orang Anggota Muda Sapu Jagad UPL MPA Unsoed, untuk mewujudkannya dalam pengembaraan ini.
Dari beberapa sungai yang ada di jawa, kami memilih sungai Cikandang dan Cimanuk yang berada di Garut, Jawa Barat, sebagai tujuan kami. Itu karena kedua sungai tersebut kami anggap mewakili harapan kami untuk melakukan pengarungan sekaligus pengabdian atau bakti sosial di sekitar sungai tersebut.
Hari pertama operasional kami habiskan untuk melakukan perjalanan dari Purwokerto menuju Garut, tepatnya di sekretariat Mapala STTG. Disana kami melakukan ramah tamah sekaligus persiapan pengarungan di hari selanjutnya.
Hari pertama pun berlalu, saatnya kami bersiap-siap menuju lokasi start point sungai Cikandang di kampung Ciarinem yang jaraknya cukup jauh. Kami menghabiskan waktu sekitar empat jam perjalanan. Hal tersebut dikarenakan akses jalan yang buruk serta penuh dengan tanjakan terjal hingga tak jarang mobil yang kami tumpangi meraung-raung karena tak kuat menanjak. Tiba di lokasi tujuan, kami bergegas melakukan persiapan seperti pemompaan kedua perahu kami beserta peralatan camp dan logistik untuk aktivitas river camp.
matahari belum diatas ubun-ubun, kami bersepuluh yang terbagi dalam 2 tim, yaitu tim Devotion dan tim Society, sudah siap melakukan pengarungan. Seperti biasa, sebelum pengarungan kami melakukan pemanasan dan briefing agar kegiatan kami tetap sesuai rencana dan prosedur. Tak lupa kami berdoa berharap kegiatan berlangsung aman tanpa kendala.
“Persiapan!! Dayung!!!” teriak skipper, serentak dayung kami pun ditancapkan dan mulai mendayung dengan semangatnya. Di hari pertama pengarungan ini kami disambut oleh pillow-pillow kecil yang dapat menghambat laju perahu kami yang memaksa kami harus melakukan manuver-manuver tajam untuk menghindarinya. Kedua tim sempat kerepotan karena perahu beberapa kali wrap diatas pillow-pillow tersebut. Namun tak lama kemudian terdapat pertemuan arus dari sungai Cikandang dan Cihideung sehingga semakin besar debit airnya begitu pun arusnya.
Dalam pengarungan yang terdiri dari 2 tim ini, kami menerapkan river running system yang berarti tim Devotion dan tim Society secara bergantian menjadi tim rescue bagi tim lainnya. Selain itu, kami juga melakukan pemetaan jeram pada jeram-jeram besar yang memiliki grade lebih dari grade III. Tak banyak jeram yang kami petakan pada hari ini, kami hanya memetakan 4 jeram. Hal itu dikarenakan hari sudah menjelang sore dan airpun mulai naik karena di hulu sudah turun hujan sehingga kami harus bergegas melakukan river camp dan pengarungan dilanjut keesokan harinya. Akhirnya perahu menepi di desa Tanjung Mulya, sekitar setengah perjalanan dari start menuju finish, dan segera mencari lokasi yang rata untuk didirikan camp.
Setelah tenda berdiri, benar saja, air di sungai naik drastis, banjir. Namun kami tetap melanjutkan aktivitas camp seperti memasak dan makan. Setelah itu, kami melakukan evakoord (evaluasi dan koordinasi) agar kegiatan kami tetap berjalan sesuai rencana operasional.
Keesokan harinya, setelah semua crew terbangun dari tidur lelapnya, seperti biasa kami melakukan aktivitas camp untuk persiapan lanjutan pengarungan. Hari berganti, tantangan pun berganti. Pada hari kedua pengarungan ini, air sungai berwarna keruh tanda debit air sedang besar, lebih besar dari biasanya karena pengaruh banjir pada hari sebelumnya. Entah kami harus senang atau khawatir dengan keadaan itu. Senang karena mungkin air yang besar akan menghasilkan arus dan standing wave besar pula. Tapi tentunya kami juga harus lebih berhati-hati dan lebih waspada lagi dengan keadaan tersebut.
Pada pengarungan lanjutan ini, tujuan kami adalah menuju pantai Cijayana dimana sungai Cikandang ini bermuara. Jeram demi jeram kami lewati dengan penuh antusias. Tak jarang kami disuguhi dengan pemandangan tebing-tebing yang indah disepanjang aliran sungai. Semakin mendekati pantai, semakin banyak arus yang flat sehingga kadang kami anggap remeh jeram-jeramnya, padahal berbahaya. Terbukti dengan flip nya perahu kami pada jeram terakhir karena mungkin terlalu terpana oleh pemandangan disekitarnya sehingga membuat buyar konsentrasi kami. Lalu, sekitar setengah jam kemudian kami sampai di finish, tepatnya di jembatan besar dekat pantai Cijayana. Hari kedua pengarungan kami memetakan 7 jeram yang berarti dari keseluruhan di sungai Cikandang ini kami memetakan 11 jeram besar yang ber-grade 3 hingga 4+.
Hari berikutnya, selasa, 3 April 2012, kami seharusnya melakukan cross check jeram-jeram yang telah kami petakan, namun karena kendala cuaca tak mendukung maka kami putuskan untuk tidak melakukan pengarungan dan lebih menekankan untuk persiapan acara BakSos ke Sekolah Dasar Negeri 2 Depok, Kecamatan Pakenjeng, yang jaraknya tak terlalu jauh dengan start point sungai Cikandang.
Tak terasa hari yang paling kami tunggu tiba. Hari itu kami berkunjung ke SDN 2 Depok untuk BakSos dan melakukan penyuluhan tentang lingkungan, cara menjaga serta melestarikannya. Sesampainya disana, Kami disambut dengan antusias oleh murid-murid, guru-guru, bahkan kepala sekolahnya. Kami merasa sangat dihargai berada ditengah-tengah mereka.
Tak hanya sampai disitu, setelah memberi penyuluhan kepada murid-murid, kami juga memberi bantuan berupa buku-buku bacaan untuk anak tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Hingga akhirnya kami pun harus segera berpamitan dan acara tersebut kami tutup dengan sesi foto-foto dengan seluruh murid dan guru SDN 2 Depok tersebut.
Hari itu lumayan melelahkan, namun sebanding dengan hasilnya. Hingga kami kembali ke sekretariat Mapala STTG pun, wajah sumringah kami tak juga luntur walau terbasuh keringat.
Kamis, 5 April 2012, kembali kami melakukan pengarungan. Kali ini kami mengarung di sungai Cimanuk, tepatnya Cimanuk atas yaitu jalur Padarek menuju Maktal yang berkarakteristik sempit dan deras sehingga butuh manuver cepat dan dayungan kuat. Kami juga ditemani oleh anggota FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) Garut, yaitu Wa Yana. Hari itu kebetulan air sungai juga lagi besar, kami harus ekstra hati-hati karena banyak jeram-jeram yang berubah akibat banjir bandang yang terjadi kurang lebih satu bulan sebelumnya. Seperti biasa, kami melakukan pemetaan pada jeram-jeram cukup besar yang ber-grade 3 hingga 4+. Hari itu kami memetakan sekitar 7 jeram besar di sungai Cimanuk tersebut. Pengarungan tersebut berakhir di Maktal, tepatnya dekat jembatan besar. Beda dengan pengarungan di sungai Cikandang, hari itu kami tidak melakukan river camp. Hal itu karena finish point nya dekat dengan base camp kami, Sekretariat Mapala STTG.
Esok harinya, kami seharusnya melakukan cross check di jalur Padarek-Maktal yang kami petakan sebelumnya. Namun Wa Yana lebih merekomendasikan untuk melakukan pengarungan di jalur tengah yang berkarakteristik lebih lebar dan lebih mudah. Di jalur tengah ini pula, kami, tim Devotion dan tim Society, diminta untuk menjadi tim rescue untuk tim tamu/wisata sekaligus mempraktekkan cara membawa perahu untuk wisata. Hari itu kami belajar banyak dari Wa Yana yang notabene memang sudah puluhan tahun bermain arung jeram dan dengan segudang pengalamannya.
Sabtu, 7 April 2012, tidak ada pengarungan di hari itu. Sebagian tim melakukan packing persiapan pulang, namun ada beberapa orang yang diminta untuk menjadi anggota tim rescue di mapala lain yang sedang menerima tamu/wisata. Sehingga kepulangan kami tertunda hingga sore harinya.
Sore itu, kami, sepuluh Anggota Muda Sapu Jagad UPL MPA Unsoed, telah mewujudkan mimpi kami dan kembali menuju sekretariat kami tercinta, UPL MPA Unsoed, dengan membawa segudang pengalaman berharga yang akan kami jadikan bekal untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Mimpi itu telah terwujud, dan kini saatnya untuk menciptakan mimpi yang lebih besar dan kembali mewujudkannya.



Naskah Oleh :

FAJAR TRI PURNAMA
Banjarnegara

Sabtu, 21 April 2012

Surganya anak remaja , Papuma Beach


Jember, 01-04-2012. Liburan semesteran biasanya anak remaja bingung mau nyari tempat dimana. Bukan cuma bingung, tapi galau juga gimana mengimbangi kepuasan hati untuk berlibur dengan dompet yang keadaannya mengkhawatirkan. Pengen tau liburan yang wonderfull tapi dompet tetep full? Jawabannya adalah...*deng dong deng* Papuma Beach!!



Kamis, 19 April 2012

Sempu ,wista Malang selatan


Saat liburan semester ganjil saya dan teman-teman mengadakan rekreasi ke pantai Sendang Biru, yang terdapat di Kabupaten Malang. Tidak ada angkot  menuju pantai Sendang Biru, jadi kami menyewa mobil tuk menuju pantai Sendang Biru. Pantai Sendang Biru cukup jauh dari kota Malang, sekitar 2 sampai 3 jam. Jalan menuju pantai Sendang Biru berliku-liku melewati daerah pegunungan, hamparan sawah, hutan, juga rumah-rumah penduduk. Wah, ternyata di atas gunung pun ada rumah, namun yang terlihat hanya satu rumah, kira-kira penghuni rumah tersebut kesulitan atau tidak ya tinggal di atas gunung tanpa ada warung, dan jauh dari tetangga.



Klayar panorama selatan Pacitan


Kota Pacitan, siapa seh yang tidak kenal dengan kota Pacitan? Walaupun kota ini kecil tapi nama kota ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, tahu kenapa? Yupz karena kota ini merupakan kota kelahiran orang no.1 di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan beliau bapak Susilo Bambang Yudhoyono, presiden RI saat ini.






Kota Pacitan, yang terletak di Jawa Timur dekat Laut Selatan merupakan sebuah daerah dengan keindahan alam yang tiada tara, tidak aneh jika kota ini mendapat julukan KOTA 1001 GOA, karena banyak sekali goa-goa di kota ini. Tidak hanya itu saja, Pacitan juga memiliki pemandangan indah yang disuguhkan melalui keindahan pantainya. Ada banyak pantai di kota ini, mau cari pantai yang seperti apa, Pasirnya putih? Ada, ombaknya besar? Ada, yang menjual ikan? Ada, yang batu kerangnya besar dan unik? Ada. Anda mau mencari yang seperti apa itu semua sudah ada di kota ini. Salah satu pantai yang ingin saya tunjukkan adalah pantai Klayar.

Pantai Klayar merupakan salah satu pantai yang ada di kota pacitan yang menyuguhkan pemandangan tidak kalah menarik dengan pantai-pantai lain di kota pacitan. Di pantai Klayar ini anda bisa menemukan pasir yang putih, ombak yang besar, batu karang yang unik, dan bintang laut (kalau lagi musim, pasti bisa menemukan banyak sekali). Pantai yang indah ini terletak di kecamatan Pringkuku kurang lebih 30 km dari kota Pacitan. Bagi para pengunjung bisa menjangkau tempat ini dengan motor dan mobil pribadi, karena sampai sekarang ini saya masih belum mengetahui apakah sudah ada kendaraan umum untuk menuju ke area pantai. Jalan yang dilalui pun sekarang sudah terbilang mudah, walaupun untuk sebagian orang yang belum pernah melakukan perjalanan ke daerah pegunungan akan merasa ketakutan dengan jalan yang naik-turun, bergelombang, berbelok-belok dan jalan yang tidak terlalu lebar. Akan tetapi perjalanan itu akan terbayar dengan pemandangan indah pantai Klayar, dimana setelah anda menguras konsentrasi anda dengan memperhatikan jalan menjadi hilang ketika anda melihat keindahan pantai ini. Dan tarif yang dikenakan pun terbilang murah cukup RP. 5.000 (itu waktu lebaran 2011, mungkin sekarang masih segitu).
   
Udara yang sejuk, pemandangan yang memukau akan membuat anda terkagum-kagum melihatnya. Subhanallah inilah salah satu ciptaanNya. Itulah ucapan yang keluar dari bibir saya pertama kali saya melihatnya .
   
Saya saat itu datang sekitar pukul 10.00 tempat itu sangat ramai,ya karena pada saat itu adalah lebaran hari ketiga, pantaskan rame? Hhe hhe hhe. Pengunjung yang dtang saat itu banyak sekali, tidak hanya dari kota Pacitan tetapi ada banyak yang dari luar kota Pacitan yang mereka mempunyai keluarga di kota Pacitan.

Pantai ini masih terlihat banget keasriaannya, karena masih belum banyak orang yang tahu, jadi belum begitu banyak campur tangan manusia di dalamnya. Air yang biru, jernih ombak yang berdebur, udara yang sejuk melengkapi pemandangan indah siang itu dari atas bukit dekat pantai, dengan segelas es kelapa muda,. Ehm sungguh nikmat sekali.
   
Ada satu pemandangan menarik dari pantai ini adalah, lubang dari batu karang dimana jika ada ombak dibawahnya maka ombak itu akan masuk lubang dan akan menyembur ke atas, seperti gambar dibawah ini. Pemandangan seperti ini tidak disia-siakan oleh para pengunjung, mereka selalu ingin berfoto ketika ada ombak yang datang, akan tetapi terkadang ketika ombak itu datang jepretan kamera tidak pas dan akhirnya hanya jadi bahan tertawaan.
   
Ombak yang besar membuat pengunjung dilarang untuk bermain air dipantai ini, jadi pantai ini lebih cocok jika untuk foto dan melihat pemandangan saja. Dibawah ini merupakan salah satu bentuk batu karang yang unik yang ada dipantai ini.

Pantai yang indah, sejuk, asri, ombak yang keren, pasir yang putih merupakan salah satu pemandangan alam yang bisa kita nikmati di kota Pacitan. Tidak afdhol rasanya jika saya tidak berfoto dipantai ini sebelum saya meninggalkan pantai ini,. Hhe hhe hhe

Naskah Oleh :

Dewi yulaikah
Banguntapan, Potorono, Bantul, Yogyakarta