Sabtu, 07 April 2012

Toba yang mempesona


Siapa sih yang tidak tahu Danau Toba ? Salah satu danau terbesar dan terindah di Indonesia. Dan setiap akhir tahunnya menjadi salah satu tempat yang paling favorit untuk dikunjungi banyak orang. Danau Toba memang selalu menyimpan sejuta pesona bagi para pecinta eksotika alam. Setiap tahunnya turis lokal maupun mancanegara selalu ramai memenuhi kawasan danau  Toba. Tidak heran, banyak orang yang sudah pernah pergi kesana ingin pergi lagi untuk kedua kalinya. Pemandangan air yang menakjubkan serta ditambah suasana alam yang begitu eksotis, sungguh memberikan ketenangan dan perasaan takjub akan keagungan ciptaan Allah sang Pencipta. Ribuan tasbih dan tahmid tak berhenti mengucapkan rasa syukur dan takjub kepada sang Pencipta.


 

 

 


Pada pertengahan tahun 2010 lalu, tepatnya ketika saya naik ke kelas 3 SMA. Saya bersama teman-teman mengadakan “ The Last Tour “ . Ya begitulah bahasa gaulnya.  The Last Tour atau perjalanan terakhir kami untuk menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan seperti kata Sheila On7. Memang agak rumit untuk memilih tempat wisata yang cocok untuk perjalanan terakhir. Kami bingung memilihnya, karena saya rasa semua tempat sangat bagus. Karena memang Indonesia menyimpan 1001 eksotika alam yang sangat menakjubkan. Setelah berdiskusi panjang lebar tentang tempat mana yang akan kami tuju, akhirnya pilihan kami jatuh kepada si  Danau nan eksotis yang terletak  di tengah Sumatera Utara itu. Ya akhirnya, Danau Toba berhasil terpilih menjadi tempat terakhir kami bersama menghilangkan semua beban dan jenuh selama menuntut ilmu. Karena memang di kelas 3 nanti kami akan berpisah, karena yang masuk 10 rangking besar dipindahkan ke kelas unggul di SMA kami. Sulit rasanya bagi kami untuk berpisah, karena memang kami rasanya udah sangat kompak. Tidak ada kata marah ataupun saling bertengkar di dalam kelas kami. Semua masalah terselesaikan dengan rasa toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Bagi teman-teman yang akan di pindahkan ke kelas unggul, nantinya mereka harus beradaptasi lagi dengan makhluk-makhluk “pintar” lainnya. Kami biasanya menyebutnya makhluk luar angkasa, karena kecerdasan yang melebihi para makhluk bumi mungkin? Haha.. Entahlah, itu semua hanya sepenggal lelucon dan kenakalan di masa-masa putih abu-abu kami dulu.

Setelah berunding tentang semua persiapan keberangkatan, akhirnya kami sepakat bahwa tanggal 3 Juli 2010 hari Sabtu malam kami akan  berangkat ke Danau Toba. Hari Sabtu malam tepatnya pukul 21.00 WIB kami pun berkumpul di sekolah. Ternyata penampilan manusia-manusia penghuni kelas kami sangat beraneka ragam, ada yang simple, sedikit berlebihan, dan bahkan ada satu teman kami yang over dari berlebihan,  dan untuk stadium ini kami punya istilah sendiri yaitu “LEBAY” . Teman saya yang satu ini memang agak berlebihan dalam segala hal, baginya dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara, jadi dia harus mengapresiasikan dirinya dengan sebaik mungkin, di tambah dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, jelaslah bahwa dia berpenampilan sekehendak hatinya. Kawan, kadangkala kepercayaan diri  berlebih itu sungguh tipis bedanya dengan penyakit gila. Karena sikapnya yang seperti itu, saya sering menggodanya. Maka malam itupun , saya bertanya kepada dia, “Maaf bang, kami mau ke Danau Toba bukan ke Antartika.” Lantas, meledaklah tawa kami menambah hangat suasana malam itu. Sambil menunggu bapak pembimbing yang agak telat . Kami bermain gitar bersama dan membawakan lagu Peterpan, “Semua Tentang Kita”. Saya rasa lagu itu benar-benar cocok buat mewakili perasaan kami pada malam itu. Setelah semuanya berkumpul. Tepat pukul 22.00 WIB kami pun berangkat menggunakan mobil Jumbo. Mobil pun melaju dengan tenangnya menembus perbatasan ACEH-SUMUT. Dan saya pun tak tahu apa yang harus saya katakan, semuanya gelap. Tinggal beberapa tawa yang masih tersisa malam itu. Mungkin, beberapa teman saya tidak bisa tidur. Dan sebagian lagi ada yang lagi mengganggu teman yang sudah tidur, mendengarkan musik, dan memandang dengan tenang ke luar jendela mobil melihat apa yang bisa terlihat di tengah gelapnya malam.

Tepat pukul 04.30 WIB kami berhenti sebentar di Kisaran, Sumatera Utara. Ada yang keluar untuk membuang rasa pegal, buang air, dan foto-foto dengan wajah yang masih kusut. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sungguh menegangkan, karena jalan yang berliku-liku. Pada pukul 05.45 tibalah kami Parapat. Kalau yang tidak pernah pergi kesana, lantas bertanya seperti teman saya. “ Ben, kita di laut mana ini ? “, seisi mobil langsung tertawa dan membodoh-bodohi teman saya yang baru sekali pergi ke Toba. Memang kalau kita lihat sekilas memang tampak seperti laut. Karena memang Danau Toba adalah danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami singgah sebentar di masjid untuk melaksanakan shalat Subuh. Ketika mengambil wudhu’ rasa ngantuk dan lelah yang saya alami selama perjalanan langsung hilang, karena air disini sungguh dingin dan menyegarkan. Setelah shalat Subuh, kami mencari tempat penginapan yang murah meriah. Kemudian setelah mendapat arahan dari pembimbing kami menyebar untuk mencari aneka macam kerajinan tangan masyarakat Toba. Banyak macamnya, ada jaket, gantungan kunci, manik-manik, dan berbagai macam lainnya. Harganya pun tidak terlalu mahal. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya saya bersama teman-teman pun ingin membeli jaket. Kami berpura-pura bisa logat Batak. Biar tidak ditipu dan murah harganya. “ Berapa ini bang kau jual? “. Abang itu menjawab, “40 ribu sajalah untuk kau”. Mahal sekali bang,? Biasa aku ambil 30 ribu saja sudahlah dapat. Abang itu pun tetap bersikeras, “ Itu udah yang paling murahnya ku jual, biasa 50 ribu.” Saya pun tak mau kalah, “ Alah abang ini, macam baru sekali ajanya aku kesini, besok-besok kemari lagi lah aku”. Akhirnya, abang itu pun menyerah dan langsung membungkus jaketku. Setelah keluar dari toko itu, teman-teman saya tertawa. Karena lucu mendengar logat bicara saya yang seperti orang  Batak. Suasana disini sungguh berbeda dengan di Aceh, disini dimana-mana banyak anjing. Karena kurang terbiasa teman-teman saya selalu was-was karena takut anjing. Kami pun pergi ke tempat orang-orang yang menyewa speed boat untuk berkeliling Danau Toba. Untuk sekali naik hanya 50 ribu rupiah. Kami tidak naik hanya berfoto-foto dan melihat orang memancing. Anak-anak kecil berlari kesana kemari. Burung-burung terbang menyambut indahnya aktivitas pagi hari di Danau Toba. 

Setelah puas seharian kami berkeliling Danau Toba, kami pun berangkat menuju Tempat Pemandian Alam Simbahe. Sepanjang perjalanan banyak terdapat kebun jeruk, strawberry, dan sayur-sayuran. Gereja pun tersusun dengan rapi. Rumah makan yang menyediakan Babi Panggang Karo banyak sekali disini. Pemandangan hijau membentang luas dan walaupun sudah siang udara tetap seperti di pagi hari. Masih belum hilang bayangan Danau Toba, karena begitu luasnya. Di tengah jalan pun kami melihat ada mobil yang masuk jurang. Kami hanya berhenti sebentar untuk melihat. Akhirnya kami tiba di Simbahe. Banyak sekali orang disini, karena hari Minggu. Airnya lumayan kencang dan dingin. Cukup untuk menghilangkan rasa penat selama perjalanan meninggalkan Danau Toba. Setelah mandi kami pun memutuskan untuk menuju Kota Medan untuk berjalan-jalan di Carrefour. 
     
Karena tidak sabar ingin main-main di mall. Kami berteriak “ Bang ! Bawa terus yang kencang, biar cepat sampai !! “, yang cewek pun pada ngomel. “ Kalian mau mati ya ? “. Tapi memang bagaimanapun kami tidak bisa kencang, karena sepanjang perjalanan macet. Arus datang dan balik sama banyaknya. Kami pun cuma bisa bersabar berharap agar cepat tiba di Medan. Tapi sungguh tiada terasa rasa lelah karena sepanjang perjalanan pemandangan hijau membentang luas. Ada yang saling menyalip, suara klakson pun membahana di udara, rasa panas pun tak tertahankan. Hingga lelah yang mengantarkan mata kami untuk terpejam. Tanpa terasa kami sudah tiba di kota Medan. Kami pun langsung menuju ke Carrefour dan shalat maghrib disana. Setelah mendengar instruksi dari pembimbing. Kami pun diizinkan untuk berkeliling sepuas hati namun tepat jam 22.00 WIB berkumpul lagi di parkiran. Langsung saja, saya bersama ketiga teman saya berkeliling melihat sekitar. Bermacam-macam barang dijual disini. Namun tak ada tempat yang lebih kami inginkan kecuali KFC. Maklum saja, rasa lelah di perjalanan membuat kami lapar. Kami berempat pun memesan paket Super Jumbo. Setelah itu, kami berkeliling lagi melihat apa yang bisa dilihat.

Tiba-tiba teman saya mengajak untuk menonton Film 3D. Karena lagi promo, kami berempat pun mau dan memilih film yang pas buat kami tonton. Mulai dari film tentang lautan, horor, rollercoaster, benar-benar seakan kita berada disana. Teman saya sampai berteriak karena rasanya memang seperti nyata. Setelah puas menonton film, rasa mulas pun mulai melanda perut saya. Saya pun mencari toilet kesana kemari. Mall pun mau tutup karena sudah jam 23.00 WIB. Saya pun panik, karena memang tak tertahankan lagi. Setelah berputar-putar akhirnya saya baru menemukan toilet. Saya langsung masuk dan teman saya menunggu di luar.  Petugas cleaning service mall pun masuk untuk membersihkan toilet. Setelah selesai dia langsung mematikan lampu tanpa tahu ada orang di dalam. Rasa panik bertambah dan ketika saya bangun handphone saya jatuh ke dalam WC. Tak habis pikir lagi, saya pun memanggil petugas yang belum jauh pergi. Dia terkejut karena ternyata masih ada orang. Sepertinya sempat mengira saya ini mengira hantu. Kemudian dia menghidupkan lampu, dan kepala saya semakin pening ketika melihat handphone saya dengan sukses menyelam ke dalam WC. Setelah selesai, saya keluar cepat-cepat dan teman saya menggerutu karena saya lama sekali. Saya ceritakan kenapa saya lama sekali dan mereka tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa sadar kami pun sudah sangat terlambat. Kami berlari ke parkiran dan melihat mobil tidak ada lagi. Kami pun mulai ketakutan, tapi kami terus mencari dan mengingat-ingat dimana teman-teman semua. Akhirnya, ketemu juga. Kami pun dimarahi karena telat. Saya pun tak berani mengatakan yang sebenarnya karena malu. Sepanjang perjalanan kami merasa puas karena Danau Toba, Simbahe, Carrefour telah kami kunjungi semua. Benar-benar liburan yang mengesankan. Tak terasa mata pun terpejam hingga kembali ke Aceh. Tapi, Danau Toba pun tak terlupakan dalam ingatan saya. Benar-benar tempat yang sangat indah. Semoga kelak saya bisa kembali kesana bersam teman-teman untuk mengulang kembali memori di waktu SMA.

Naskah Oleh :

Teuku Safwatullah Iskandar
Jl.Prada Utama, Lr.Jambu Barat no.25, Kec.Syiah Kuala, Banda Aceh,Provinsi Aceh

Borobudur dan Cinta yang Tak Berujung


Kata Borobudur mungkin sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita. Akan tetapi, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mengetahui lebih banyak tentang candi Buddha peninggalan sejarah ini.  Candi yang pernah masuk dalam 7 keajaiban dunia ini, menyimpan banyak cerita yang tentunya memancing rasa penasaran kita untuk menelusurinya lebih jauh lagi. Selain keindahannya, ada pun beberapa pertanyaan mengenai apa, dimana, dan bagaimana akses menuju Borobudur sering muncul dibenak kita yang ingin memenuhi rasa penasaran terhadap candi yang terletak di desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Provinsi Jawa tengah ini.

 


Ini sebuah kisah yang dikembangkan dari pengalaman pribadi, yang kurangkai menjadi cerita cinta terhadap alam. Bermula saat  masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Saat itu muncul rasa yang sebelumnnya tidak pernah terfikirkan ketika gerak mata mulai melihat keajaiban dunia yang terpampang pada atlas yang dibagikan ibu guru. Tidak lain dan tidak bukan adalah Borobudur yang menjadi target utama mata memandang. “Kok bisa di jaman yang terlampau dulu, ada bangunan megah di Indonesia” tanyaku dalam hati. Itulah pemikiran bocah SD yang terbilang masih awam. Ingin rasannya segera habiskan waktu di lokasi Borobudur. Tapi sayang,  lokasiku sangat jauh di ujung barat pulau Flores tepatnnya di kota Bajawa NTT. Dan saat itu, inginku hanya terpendam menjadi sebuah cita-cita.

Waktu terus bergulir. Rasa penasaran itu  terbawa hingga taraf pendidikanku naik menjadi seorang mahasiswa. Itulah salah satu alasan mengapa kini aku berkuliah disalah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Akses dari kota wisata Yogyakarta menuju Borobudur terbilang dekat. Sekitar 40 Km ke arah barat laut, kita sudah sampai ke situs yang telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu peninggalan sejarah terbaik di dunia ini.  Akses lain yaitu sekitar 100 km sebelah barat daya kota Semarang, Jawa tengah. Akses ini dapat ditempuh menggunakan bis umum, bis wisata, atau pun kendaraan pribadi mobil dan motor.

Sebagai tempat wisata yang kini menjadi salah satu target utama para wisatawan, lokasi borobudur pun terus berkemas diri dengan pelayanan terhadap wisatawan. Terdapat hotel/penginapan, rumah makan/restoran. Maka dari itu, banyak agen wisata yang menawarkan paket wisata Yogyakarta sekaligus menuju situs ini.

 
Kecintaan mulai tidak terbendung, ketika langkah kaki ini mulai mengarah ke candi Borobudur. Perjalanan yang singkat, sekitar satu setengah jam membawa diri berpadu dengan kekangguman arsitek dan tekstur bangunan yang berdiri kokoh dan rapi. Walaupun terik panas menyengat kulit, itu tidak menghalangiku untuk berputar mengamati setiap sudut candi. Apalagi, pihak pengelola memberikan sehelai kain batik untuk dilingkarkan dipinggang dan digunakan saat berkunjung di area candi. Sungguh itu membatku hanyut bersama megahnya candi ini. Bagi yang takut panas tidak perlu khawatir,  disini juga tersedia jasa penyewaan payung yang bisa dipakai saat berada di area candi. 

Bangunan ini  sungguh mempesona, dan sukar dibayangkan bahwa bangunan ini hanyalah batuan yang dipahat dan kemudian disusun menjadi 10 tingkat. Stupa yang berjejer di sekelilingnnya menambah cantiknnya candi. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik terhadap rasa penasaranku yang ingin secara langsung melihat karya menakjubkan manusia jaman dulu. Dan akhirnnya terobati juga rasa penasaranku ini.

Candi ini mempunyai cerita Buddha yang dituangkan diatas pahatan batu di sepanjang dindingnya. Dan akan terbaca, bila kita berjalan searah jarum jam melalui arah kiri pintu masuk  candi. Dari atas candi dapat terlihat pula kehidupan pedesaan yang sangat menyatu dengan alam. Sawah terpampang luas, rumah warga berderet serta aktifitas warga yang mayoritasnya adalah petani menambah keasrian lingkungan pedesaan. Dan bisa dibayangkan juga, aktifitas warga saat candi ini didirikan. 

Kesempatan untuk mengabadikan moment ini pun tidak terlewatkan. Banyak diantara wisatawan yang membawa kamera untuk  foto-foto berlatarkan kemegahan candi. Bagi yang tidak membawa kamera tidak perlu takut melewati kesempatan mengabadikan moment ini, pasalnnya di sekitar candi juga terdapat orang-orang yang bekerja sebagai fotografer yang selalu siap memenuhi permintaan pengunjung. Sungguh menakjubkan, kecintaanku kian bertambah seraya menyentuh dan memperhatikan secara detail pahatan batu-batu ini. Sehingga aku berfikir, memang bukan hal yang baru lagi bila banyak orang bermimpi dan manjadikan Borobudur sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi.

Tidak hanya menyimpan pesonannya, lingkungan candi Borobudur juga memiliki masyarakat yang sangat kreatif. Wisatawan yang ingin membawa cendera mata atau oleh-oleh dapat membelinya kepada penjual yang ada di sekitar jalan keluar candi Borobudur. Cendera mata yang dijual diantarannya : miniatur candi, tas, gantungan kunci, gelang, sendal serta pakaian yang bertuliskan dan menggambarkan candi Borobudur serta berbagai kerajinan tangan lainnya yang menggoda mata dan kantong untuk memilikinnya. Tentunnya dengan harga yang terjangkau. Apalagi kalau pintar menawar, bisa dapatkan lebih banyak kenang-kenangan dengan biaya yang sedikit.

Senja kian tiba, roda waktu yang berputar membawaku untuk mengakhiri wisata cinta terhadap kemegahan dan pesona candi Borobudur. Saatnnya untuk kembali ke Yogyakarta. Walaupun waktu kian bertambah, keindahan yang menghadirkan cinta tetap melekat pada salah satu aset bangsa ini. Hingga tidak ada batas waktu, yang membatasinya untuk dikenang. (ZA)

Naskah Oleh :

Zulkarnain Achmad
muja-muju UH II/989 Yogyakarta

Tugu Sudjono di Bandar Bentsy Simalungun..


Kejamnya G30 S/PKI tak hanya melanda ibu kota saja. Tetapi hingga sampai ke sebuah desa kecil yang tak berdosa di daerah perkebunan karet Desa Bandar Betsy, Kab. Simalungun. Gerakan seporadis PKI yang sangat keji turut menewaskan perwira TNI AD yaitu Peltu Sudjono. 
 
 

Kini daerah bekas pembantaian itu menjadi salah satu objek wisata bersejarah dengan dibangunnya Monumen Pancasila yang merupakan tanda sejarah bahwa  aksi seporadis PKI sampai ke pelosok negeri ini. Suatu kebanggan bagi masyrakat sekitar desa atas berdirinya monumen tersebut tetapi dibalik rasa bangga tersebut ada sejuta rasa sedih. Setiap hari Kesaktian Pancasila maka seluruh jajaran Pemda SUMUT mengadakan upacara untuk mengingat peristiwa sejarah tersebut.

Naskah Oleh :

Martua Manullang
Jl. Aspal No. 80, Pekanbaru 28293

Pantai Pink Tangsi : Serpihan Surga di Bumi


Lombok. Mendengar nama pulau kecil di sebelah Timur pulau Bali itu, pasti akan langsung terbayang sebuah pulau yang dikelilingi pantai yang indah. Tak heran, pulau indah dengan julukan “Pulau Seribu Masjid” ini memiliki panorama pantai yang luar biasa indah. Mungkin orang awam mengenal pantai di Lombok hanya pantai Senggigi dan kawasan Gili Trawangan saja. Sebenarnya, selain dua wilayah pantai indah tersebut, masih banyak pantai-pantai lain di Lombok yang layak untuk dikunjungi.

Meskipun sudah seringkali diekspose oleh televisi nasional, tetapi sebenarnya masih banyak pantai indah di Lombok yang namanya belum akrab terdengar oleh wisatawan. Salah satunya adalah pantai Tangsi di wilayah kecamatan Jerowaru kabupaten Lombok Timur.
 




Secara geografis, pantai ini terletak nyaris di ujung selatan pulau Lombok. Untuk mencapainya pun sangat dibutuhkan perjuangan. Hal ini mengingat jalur menuju lokasi berupa jalan sempit yang membutuhkan perbaikan segera. Beberapa ruas jalan beraspal itu sudah rusak, dari rusak sedang sampai rusak parah. Harus ekstra hati-hati saat mengendarai mobil atau sepeda motor.

Perjalanan dari pusat kota Mataram memerlukan waktu sekitar dua jam untuk sampai lokasi. Beruntung saat kita melakukan jelajah Lombok itu kita rombongan berenam, jadi perjalanan tetap terasa seru. Sampai di pintu gerbang, kami tidak berani membawa mobil sampai di bawah. Diputuskan untuk parkir di luar lokasi pintu masuk. Untuk masuk tidak ada pemungutan tiket maupun petugas parkir. Hal ini disebabkan karena memang pantai Tangsi ini belum dikelola secara optimal. 

Kami segera menyusuri jalan setapak berbatu dengan berjalan kaki. Pada penunjuk jalan tertulis 50 meter, tetapi kenyataannya hampir 100 meter kami lalui untuk mencapai pecahan surga tersembunyi itu. Sekitar lima belas menit, sampailah kami di bibir pantai. Setibanya di lokasi, rasa lelah pun terbayar dengan pemandangan pantai yang luar biasa indah. Mata kami terpaku pada air laut yang bening sampai ke dasarnya.

Di sebelah kanan pantai ada bukit yang digunakan oleh penghuni setempat untuk menggembalakan ternak kambing. Di sebelah kiri pun sama. Pantai Tangsi ini membentuk semacam cekungan yang diapit oleh bukit. Suasana pantai yang sepi dan masih perawan, merupakan daya tarik tersendiri bagi beberapa turis mancanegara yang kebetulan juga sedang berkunjung.

Di sekitar pantai, tak ada satu pun penjual minuman dan makanan, apalagi pedagang asongan. Hanya ada beberapa bangunan rumah, berugaq, dan sebuah musholla kecil. Di rumah penduduk itu ada sebuah sumur payau yang bisa digunakan untuk membilas. Belajar dari pengalaman kami dan mengingat kondisi yang seperti itu, sangat disarankan untuk membawa persediaan bekal yang cukup, terutama air minum. Selain itu, di pantai Tangsi ini, ada juga penduduk setempat yang menyewakan jasa perahu untuk menyeberang ke Gili Petelu. Karena tidak ada kesepakatan harga dengan pemilik perahu, maka kami mengurungkan niat untuk menyeberang ke Gili Petelu. 

Keistimewaan pantai ini adalah pasirnya yang cenderung berwarna merah muda (pink). Warna ini disebabkan oleh pecahan terumbu karang berwarna merah yang banyak terdapat di sana. Bukan itu saja, pada saat kami berkunjung, kebetulan hari Sabtu, tidak lebih dua puluh orang, termasuk penduduk setempat, yang berada di pantai itu. Di dekat pantai itu juga ada Goa Jepang uang berbentuk persegi. Dan, kabarnya apabila kita masuk, maka akan tembus ke pantai di sebelah bukit yang ada di sebelah kiri pantai.

Kealamian dan kebersihan pantai sangat terjaga. Terbukti sampah tidak tampak berserakan di sekitar lokasi pantai, meskipun tidak ada tempat sampah khusus. Sampah yang ada hanya sampah yang memang berasal dari alam. Hal ini yang menyebabkan kami merasa nyaman. Angin sepoi-sepoi yang segar didukung oleh matahari yang bersinar cerah, menyebabkan kami betah. Suasana yang sepi cocok untuk menenangkan pikiran setelah seminggu beraktivitas. Sungguh, pantai Tangsi adalah serpihan surga yang ada di bumi.

Naskah Oleh :

SUDOMO, S.Pt.
Jl. Adi Sucipto Gg. Perjuangan Ampenan Tengah Ampenan Mataram NTB

Empat Hari Tiga Malam di Pulau Tidung

Jauh jauh hari saya dan beberapa teman merencanakan sebuah perjalanan dalam rangka liburan semester. Akhirnya diputuskan bahwa 26 januari 2012 rencana tersebut dilaksanakan dengan tujuan wisata Pulau Tidung. Mengapa pulau tidung? awalnya kami bingung menentukan tujuan wisata namun setelah melakukan berbagai penelusuran melalui internet kami tertarik dengan pulau tidung yang sering kali menjadi buah bibir di kalangan backpacker. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan Pulau Tidung menjadi tujuan kami untuk liburan. (Penting: Mencari informasi mengenai lokasi yang akan dituju melalui internet)




Akhirnya pada tanggal yang telah ditentukan, berangkatlah kami dengan modal nekat dan bekal informasi dari internet. Dari Depok saya berangkat naik kereta menuju stasiun kota yang menjadi lokasi meeting point kami. Dari stasiun kota kami bergegas mencari angkutan umum menuju muara Angke demi mengejar jadwal keberangkatan kapal menuju pulau Tidung pukul  7 pagi. Tanpa kendala, sampailah kami di muara Angke dengan tergopoh-gopoh kemudian langsung naik ke kapal bersangkutan. Jam 7 lewat  kapal belum juga berangkat. Ternyata hal yang kami tidak tahu sebelumnya adalah bahwa biasanya bulan januari hingga februari cuaca laut di kepulauan seribu sangat berangin dan menyulitkan pelayaran sehingga jadwal keberangkatan kapal tertunda hingga cuaca membaik. Hal ini membuat kami menunggu berjam-jam, hingga akhirnya cuaca membaik sekitar pukul sebelas siang kapal pun berangkat. Tarif kapal dari muara Angke ke pulau Tidung Rp 33.000,- (Penting: Cek cuaca di lokasi wisata sebelum keberangkatan)



Pulau Tidung merupakan salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau di kepulauan Seribu. Pulau ini mudah diakses, karena selain lokasinya di Jakarta, transportasi menuju kesana juga relatif murah. Pulau Tidung terdiri dari dua pulau yang berdekatan yaitu Tidung besar dan Tidung kecil, kedua pulau tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan yang disebut jembatan cinta. Jembatan ini merupakan salah satu spot yang menjadi tempat favorit wisatawan. Pulau Tidung besar dihuni oleh penduduk, sedangkan tidung kecil tidak berpenghuni dan kerap kali dijadikan lokasi untuk berkemah. Banyak hal seru yang dapat dilakukan di pulau yang indah ini seperti snorkeling, diving, banana boat, memancing, bersepeda keliling pulau, tracking pulau tidung kecil, outbond, barbecue dipinggir pantai, lompat dari jembatan cinta, atau sekedar duduk-duduk di jembatan cinta menikmati sunrise dan sunset yang menawan.


Sayangnya kami kesana bukan saat weekend sehingga tempat wisata tersebut sepi.  Hanya ada beberapa wisatawan saja, berbeda dengan hari sabtu dan minggu hari dimana pulau Tidung biasanya dipadati pengunjung. Sisi baiknya kami bisa menikamati pulau Tidung seperti pulau kami sendiri . Kami disana lumayan lama yaitu 4 hari 3 malam. Cukup puas untuk meng-explore keindahan 2 pulau tersebut. Awalnya saya merasa takjub juga, ternyata ada sisi lain dari Jakarta yang tidak banyak diketahui orang. Jauh dari image kota metropolitan, kemacetan, polusi, dan hal lainnya yang membuat kita gerah. Laut jernih dengan biota laut yang indah, dan segala hal yang membuat kita enggan kembali kepada rutinitas .

Naskah Oleh :

Nadya Mentari
Kukusan, Beji- Depok

Kamis, 05 April 2012

GUNUNG ARGOPURO (3.088 mdpl) SURGA DI TIMUR TANAH JAWA

GUNUNG ARGOPURO (3.088 mdpl)
SURGA DI TIMUR TANAH JAWA
(Catatan Perjalanan Tanggal 20-24 Juli 2011)
Oleh Y. Yulia Andriani

Gunung Argapuro merupakan bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Gunung ini termasuk bagian dari pegunungan Iyang yang terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Berada pada posisi di antara Gunung Semeru dan Gunung Raung. Ada beberapa puncak yang dimiliki oleh gunung ini. Puncak yang terkenal bernama Puncak Rengganis (topografichen Dienst, 1928). Sedangkan puncak tertingginya berada pada jarak ± 200 m di arah selatan puncak Rengganis. Puncak tertinggi ini bernama Argapoera dan ditandai dengan sebuah tugu ketinggian (triangulasi).

Gunung Argopuro mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit (kawasan hutan yang terdapat di ketinggian 300 – 750 mdpl), hutan Dipterokarp Atas (kawasan hutan yang terdapat di ketinggian 750 – 1.200 mdpl), hutan Montane (hutan pegunungan yang terdapat di ketinggian 1.200 – 1.500 mdpl), dan Hutan Ericaceous (hutan pegunungan yang terdapat di ketinggian lebih dari 1.500 mdpl). Gunung ini berada dalam pengawasan Sub BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) wilayah Jember. Gunung Argopuro merupakan gunung yang mempunyai jalur pendakian terpanjang diantara jalur gunung-gunung di Pulau Jawa lainnya. Memiliki peninggalan bersejarah dari Zaman Prasejarah hingga masa pendudukan Jepang.

Rabu, 20 Juli 2011

Setelah melakukan recovery pasca pendakian Gunung Raung jalur Sumber Wringin (17-19 Juli 2011) saya, Sigit, Hata, Fajar, dan Mas Dosso dari UPL MPA Unsoed melanjutkan perjalanan ke gunung berikutnya, Gunung Argopuro. Pukul 07.10 kami berangkat dari Pesanggrahan menuju terminal Bondowoso dengan menggunakan angkudes. Di terminal kami membagi tugas. Saya dan Hata belanja logistik di pasar, Fajar upload foto hasil dokumentasi Gunung Raung di warnet depan terminal, dan Sigit mengurus perizinan ke Jember. Untuk mengurus hal-hal itu membutuhkan waktu yang lama, sampai pukul 15.15.

Dengan menggunakan bus kami berangkat menuju Pajarakan. Dari Pajarakan menggunakan angkudes terakhir pada pukul 17.40 menuju Pesanggrahan Bremi. Pesanggrahan Bremi sangat nyaman dengan fasilitas 5 kamar tidur dengan double bed dan kamar mandi dalam, ruang tamu, meja makan, dan berlantai kramik putih. Keadaan ruangan dan tamannya rapi dan terawat baik. Harga sewanya lebih murah dari harga sewa kamar utama di Pesanggrahan Sumber Wringin, yaitu Rp 50.000/malam. Di sana kami packing peralatan dan logistik. Kami pun meninggalkan barang yang dirasa tidak perlu di Pesanggrahan untuk mengurangi beban dan memaksimalkan pergerakan. Bahkan satu buah jerigen yang dibawa saya turut ditinggal. Gunung Argopuro tersedia banyak air sampai Rawa Embik.

Kamis, 21 Juli 2011

Jalur yang pertama kami lewati berupa jalan raya lalu berbelok ke jalan makadam di samping mesjid sampai ke perkebunan damar. Setelah melewati rumah penduduk, kami melintasi jalan tanah di tengah perkebunan kapas. Setelah perkebunan damar, barulah kami masuk jalan setapak. Jalurnya relatif datar dan menanjak cukup terjal menjelang triangulasi sebelum Danau Taman Hidup.

Kami tiba di Danau Taman Hidup pada pukul 14.40. Danau Taman Hidup ibarat surga kecil di rerimbunan rimba Argopuro. Hamparan savana yang luas membentang di hadapan kami. Pohon-pohon cemara tumbuh menjulang tinggi seolah memagari savana. Permukaan danau yang tenang tampak hijau dan sejuk. Kabut tebal pun turun, menyelimuti kelengangan yang merengkuh erat Danau Taman Hidup. Sesekali angin kencang menyibak kabut, sejenak memperlihatkan keelokan pemandangan yang penuh warna.

Di tepian danau kami bertemu dengan para pendaki yang tengah camp. Setelah berbincang-bincang sebentar kami mengambil air dari dermaga kecil yang sudah agak rusak. Dari dekat air danau tampak lebih hijau dan sejuk. Tumbuhan danau terhampar di tepian, bercermin di permukaan air.

Belum puas kami menikmati keindahan yang teduh, kami harus segera melanjutkan perjalanan karena target hari ini belum terpenuhi. Target hari ini adalah Kali Putih. Tapi jarak yang ditempuh sangat jauh dan tidak sesuai dengan rencana operasional. Akhirnya kami mendirikan camp pada koordinat 4155.0085 yang berupa sebuah dataran yang cukup luas memuat dua tenda kami di punggungan Taman Kering. Kami bertemu dengan penduduk pencari burung yang baru turun dari puncak. Mereka mengabarkan bahwa puncak dapat ditempuh selama 3 jam perjalanan naik dan 1 jam perjalanan turun. Tetapi kami putuskan perjalanan tetap sesuai rencana operasional dengan melewati jalur umum karena informasi kurang jelas mengenai puncak mana yang mereka daki dan keadaan jalur yang masih samar.

Jumat, 22 Juli 2011

Kami memulai perjalanan pada pukul 07.25 dengan melipir punggungan Taman Kering hingga ke wilayah saddle. Jalur menuju Kali Putih cukup panjang dan relatif datar dengan melipir punggungan beberapa puncakan di sebelah kiri. Jalurnya kering dan berdebu sehingga harus hati-hati dalam melangkah supaya orang yang dibelakang tidak terkena debu. Tetapi pemandangannya sangat indah dengan puncakan-puncakan bervegetasi rumput dan cemara di kiri kanan jalur. 
      .
Kali Putih merupakan tempat camp yang cukup luas. Kami mengambil air di sungai kecil. Sementara di pucuk-pucuk pohon beberapa ekor monyet asyik berlompatan dan berasyik masyuk. Perjalanan kami selanjutnya sangat panjang. Hutan-hutan gunung membentang di sepajang jalan, disambung dengan padang savana Alun-Alun Besar sebelum pos Cisentor yang sangat luas. Pemandangan Gunung Argopuro sangat menakjubkan, mampu mengalihkan rasa lelah kami yang tengah menempuh jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Flora dan fauna yang kami jumpai pun beragam. Burung-burung dan ayam hutan yang berbulu cantik kerap memamerkan keindahannya di hadapan kami. Selain itu, nilai plus Gunung Argopuro tidak pelit air. Air tersedia dengan melimpah di Danau Taman Hidup, Kali Putih, Cisentor, dan Rawa Embik.

Di Cisentor kami bertemu dengan puluhan pendaki yang tengah melakukan pendakian massal yang baru turun dari puncak. Beberapa orang dari mereka adalah pendaki yang bertemu di kereta Logawa tempo hari. Mereka tidak jadi mendaki Semeru dan mengalihkannya ke Argopuro.
 
Setelah melepas lelah cukup lama dengan mereka, kami pun melanjutkan perjalanan ke Rawa Embik karena masih cukup waktu dan Cisentor penuh oleh orang yang mau mendirikan camp.

Jalur menuju Rawa Embik sama dengan jalur sebelumnya. Melewati hutan, savana yang luas, dan rerimbunan edelweiss berbunga lebat yang tumbuh menjulang. Bahkan tingginya ada yang sampai dua kali lipat tinggi badan kami.

Rawa Embik berupa padang savana yang luas dan terdapat sungai kecil. Di bawah pohon cemara yang rindang kami mendirikan camp pada pukul 17.30. Temperatur di tempat camp dingin dengan suhu yang tercatat mencapai 10°C pada malam hari.

Sabtu, 23 Juli 2011

Target hari ini sangat panjang, yaitu Puncak Argopuro dan camp di Danau Taman Hidup. Jalur menuju puncak melewati padang savana Rawa Embik dengan trek datar dan masuk punggungan berhutan lebat dengan trek menanjak. Jalur kembali datar di savana persimpangan Puncak Argopuro – Puncak Rengganis. Barulah jalur terjal dan berbatu-batu sampai ke Puncak Argopuro.

Keadaan puncak berbeda dengan gunung berketinggian 3.000 m dpl lainnya. Tidak ada pelawangan dan vegetasinya masih lebat. Di puncak kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berfoto dan coffee break. Dari atas puncak Danau Taman Hidup terlihat dengan jelas. Itu tujuan camp kami, sehingga pergerakan turun kami harus dipercepat.

Di Rawa Embik tak jauh dari tempat camp kami terlihat seekor babi hutan yang besar melintas, berjalan lurus menuju hutan. Sejak kemarin tempat itu memang diduga terdapat banyak babi hutan tetapi semalam kami tidak menemukannya. Pukul 14.05 kami tiba di Cisentor, tempat kami melakukan ishoma hari itu. Di sana kami pun bertemu dengan rombongan pendaki yang kemarin bertemu di Danau Taman Hidup. Pukul 14.05 kami melanjutkan perjalanan dan mengambil persediaan air di Kali Putih.

Hari semakin sore. Sinar matahari senja menyepuh wilayah saddle dengan warna kuning kemerahan. Dari kejauhan Gunung Lamongan dan Gunung Semeru mengintip di langit berwarna emas. Sungguh menakjubkan pemandangan sore itu!

Minggu, 24 Juli 2011

Danau Taman Hidup kali ini begitu cerah dan lebih indah daripada saat naik tempo hari. Bahkan merak yang cantik pun menunjukkan pesonanya pada kami. Di sana kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berfoto dan melepas lelah.

Di tengah perjalanan kami melakukan coffee break di sebuah dataran yang cukup luas. Untuk mencapai Pesanggrahan Bremi kami melewati jalur yang berbeda dari saat perjalanan naik yaitu berbelok ke arah kiri wilayah pertanian setelah perkebunan kapas. Cuaca saat itu sangat panas dan jalan terputus karena ada pembangunan jembatan. Kami pun turun ke bibir sungai dan menyeberang dengan jembatan bambu. Kami tiba di Pesanggrahan dan melakukan recovery. Arjuno-Welirang menanti!

Naskah Oleh :

Y. Yulia Andriani
Jln. Tentara Pelajar No. 50 Ciamis 46211